Koran Sindo, 3 Agustus 2013
Sebagian besar masyarakat tidak akan menolak dengan anggapan yang menyebutkan bahwa antara “cinta” dengan “citacita” itu berdekatan, bahkan tidak berjarak.
Dengan kekuatan cinta, setiap insan akan dimudahkan dalam meraih citacita yang diinginkannya. Orang yang mencintai sastra misalnya, kesempatan untuk menjadi pujangga akan terbuka lebar; atau pemuda yang suka memainkan gitar, siapa yang sangka jika esok hari dia akan menjadi pemusik terkenal.
Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi pada pasangan suami- istri yang menikah karena dipertemukan dengan cita-cita yang sama. Sejoli ini adalah Ahmad Najib Burhani dan Tuti Alawiyah Burhani. Keduanya punya semangat kuat untuk memajukan dunia penelitian nasional ke tingkat global. Untuk di Indonesia, Najib bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB)–Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sedangkan Tuti adalah peneliti di Pusat Bahasa dan Budaya (PBB) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Keduanya kerap berkontribusi dalam berbagai konferensi internasional di sejumlah negara. Najib menyelesaikan studi PhD-nya di Universitas California, Santa Barbara (UCSB), Amerika Serikat (AS) atas beasiswa Fulbright (Juni 2013). Sementara sang kekasih menamatkan juga PhD-nya di UniversitasTexas (UT), Austin, AS dengan beasiswa Ford Foundation (Juli 2013). Keduanya dipertemukan karena sama-sama mencintai dunia pendidikan dan penelitian.
“Kita lulus PhD hampir bersamaan. Meski nilai itu jarang ditanyakan, kita sama-sama mendapat nilai cum laude. IPK saya, misalnya, 3,9 dari maksimal 4,0. Tuti bahkan bisa menyelesaikan program master tambahan selain program doktoralnya. Dia menyelesaikan MSW (Master of Social Work) di tahun 2012, juga dari UT, Austin,” jelas Najib kepada KORAN SINDO. Awal perjumpaan keduanya dimulaiketikasama-samaaktifdi organisasi pergerakan ekstra kampus Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Setelah itu, keduanya sering terlibat dalam riset di bidang keagamaan secara bersama-sama. Bahkan dalam upayanya mencari beasiswa pendidikan ke luar negeri, juga dilakukan secara berbarengan. Najib menyadari bahwa untuk mendapatkan hati Tuti tidak mudah ketika itu. Pasalnya, banyak teman cowok di sekelilingnya yang mendekati dia. Bahkan, mereka menyatakan secara terbuka menyukainya.
“Melihat sikap cowok-cowok yang mendekatinya, saya mengambil langkah yang berbeda. Saya tidak mengekspresikan kesukaan saya dengan kata-kata, tapi aktif dalam berbagai kegiatan dengannya. Rupanya dia menyadari pedekate yang saya lakukan,” aku Najib yang juga aktif sebagai peneliti di Ma’arif Institute. Akhirnya, meski tetap tanpa kata-kata dari kedua belah pihak, ternyata sejoli ini saling memahami dan mencintai. Dalam jangka waktu setahun berpacaran, akhirnya keduanya menjalin ikatan pernikahan dalam usia yang masih relatif muda.
“Saya melihat Tuti itu cerdas, cantik, dan tipikal pacarannya aktivis. Jadi itu yang membuat saya penasaran dan jatuh hati,” tutur pria yang menyelesaikan studi magisternya di Leiden University, Belanda (2004) dengan nilai cum laude ini. Pada 2003, Tuti menamatkan studi magisternya di Kajian Wanita Universitas Indonesia (UI). Jadi, pasangan ini tidak hanya punya ketertarikan yang sama di bidang penelitian, tapi juga saling cinta terhadap wacana keilmuan. Hal itu kini diteladankan kepada kedua putrinya, Shopia Fatima, 12, dan Faira Nahla, 7, yang masih belajar di Negeri Paman Sam.
“Pada 2004, saya dengan istri punya pengalaman menarik. Saat itu saya menemaninya mendaftar Chevening
Scholarship dari British Council untuk ambil magister di Inggris. Daripada sekadar menemani dan duduk-duduk, saya akhirnya ikut mengisi formulir dan tes Bahasa Inggris. Karena saya sudah lulus dari Belanda, akhirnya justru saya yang diterima di Chevening,” kenang pria yang belum lama ini menerima penghargaan The Professor Charles Wendell Memorial Award 2012-2013 dari UCSB ini.
Kini setelah menamatkan program doktoralnya, keduanya banyak terlibat dalam kegiatan akademik di AS. Najib tercatat aktif di AAR (American Academy of Religion), AAS (Association of Asian Studies), dan MESA (Middle East Studies Association). Dia juga kerap menulis artikel di berbagai jurnal internasional. Adapun Tuti aktif sebagai asisten profesor di UT, peneliti, dan dosen Social Work Statistik di UT. ●nafi’ muthohirin
http://www.koran-sindo.com/node/320907
No comments:
Post a Comment