Friday, August 23, 2013

Negara Tak Lagi Netral Ketika Terbitkan SKB Tentang Ahmadiyah

Ahmad Najib Burhani (di podium), pada konferensi tentang Kajian Indonesia di Universitas California, Los Angeles (UCLA).

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Ahmad Najib Burhani, tanggal 5 Juni 2013, memperoleh penghargaan The Professor Charles Wadell Memorial Award 2012-2013 dari Universitas California, Santa Barbara (UCSB). Penghargaan ini diberikan kepada pakar comparative religions within a single religious tradition (Islam) dan kajian tentang “konsep, teori, dan praktek heresy”,  atas prestasinya dalam pengembangan Studi Islam dan Kajian Timur Tengah di Amerika Serikat, secara khusus mengkaji tentang Ahmadiyah dengan judul When Muslims are not Muslims: The Ahmadiyya Community and the Discourse on Heresy in Indonesia.
Dalam wawancara satuharapan.com dengan Ahmad Najib Burhani melalui surat elektronik, dan dijawab pada Minggu (4/8),  dijelaskannya alasan dia tertarik mengkaji tentang kelompok minoritas keagamaan dalam Islam atau pecahan dari Islam.
Menurut peneliti Maarif Institute for Culture and Humanity dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia  (LIPI)  yang saat ini masih berada di Amerika Serikat, ada beberapa kriteria yang dijadikan acuan ketika menentukan kepakaran yang dia pilih dan juga tema dalam penulisan disertasinya.
Pertama, disertasi yang dia tulis harus menjadi batu pijakan yang kokoh untuk “positioning” dalam masyarakat akademik di dunia dan Indonesia, terutama dalam bidang humanities. Maksud dia, di Indonesia telah ada beberapa sejarawan agama seperti Azyumardi Azra, ada filosof agama seperti Amin Abdullah, ada filolog agama seperti Oman Fathurrahman, ada scholar tentang radikalisme seperti Noorhaidi Hasan. Saya harus punya kepakaran dan spesialisasi yang orang lain tidak punya. Dengan studinya di Amerika Serikat dalam bidang Religious Studies (Kajian Agama), dia akhirnya memilih untuk menjadi ahli dalam bidang “Minority Religions & Religious Sects,” lebih spesifik lagi kepakaran yang dia ambil adalah ahli comparative religions within a single religious tradition (Islam) dan kajian tentang “konsep, teori, dan praktek heresy”. Bidang ini meliputi (1) sekte-sekte sempalan dari Islam dan kemudian membentuk agama baru seperti Baha’i Faith; (2) Sekte-sekte yang masih dalam Islam seperti Ismaili; (3) Sekte yang berada antara Islam dan agama sendiri seperti Ahmadiyah dan Druze. Di Indonesia banyak sekali sekte/aliran keagamaan yang bisa dimasukkan dalam tiga kategori itu, seperti Lia Eden, Satrio Piningit, Wetu Telu, dan berbagai aliran kebatian.
“Beruntung saya mendapat pendidikan yang menekankan teori dan metodologi yang kuat dalam bidang ini dari kuliah-kuliah saya selama ini, terutama dari Dept. of Religious Studies Univ California – Santa Barbara. Nah, disertasi saya harus memiliki pijakan yang kuat dalam area/kepakaran yang saya pilih itu,” kata Ahmad Najib.
Level Internasional
Kriteria kedua dalam penentuan disertasinya adalah bahwa kajian yang dia ambil harus mampu mengangkat dirinya dari sekadar pengakuan akademik tingkat nasional menuju level internasional atau keluar dari boundaries of Indonesian studies. Maksudnya, kontribusi yang dia berikan dalam penulisan disertasi harus memberikan dampak yang lebih luas dari lingkup Indonesia. Ia harus memberi manfaat secara global atau bisa dipakai sebagai acuan pada kajian yang serupa di negara lain. Ia pernah membuat prospektus atau proposal disertasi tentang Muhammadiyah, tapi proposal ini dibatalkannya karena tidak memenuhi kriteria ini. Kemudian, ia membuat lagi proposal tentang construction of Islamic authenticity dengan membandingkan antara kelompok traditionalist, modernist, neo-modernist, dan post-traditionalist. Kembali, tema ini dibatalkannya dengan alasan yang agak sama. Najib lantas membuat prospektus tentang Indonesian Islam dengan harapan bisa menemukan patterntentang Islam khas Indonesia/Asia Tenggara yang berbeda dari Islam di tempat lain. Meski kriteria ini mendekati kriteria yang bisa membawanya ke kancah internasional, tapi ia tidak memenuhi kriteria pertama. Ini lebih merupakan area studies, bukan religious studies.
“Saya sebetulnya tidak membatalkan sama sekali minat saya pada tema Indonesian Islam,saya hanya menunda. Saya rasa tema ini jauh lebih besar dari waktu yang tersedia untuk menulis disertasi. Tema ini juga membutuhkan landasan teori yang lebih rumit. Untuk saat ini tema ini juga saya batalkan, tapi suatu saat pasti saya akan kembali lagi ke penelitian ini,” paparnya.
Kriteria ketiga adalah sumbangan teori. Ia selalu teringat dengan Clifford Geertz yang menjadikan disertasinya sebagai pijakan membangun teori-teori setelah usai pendidikan doktoralnya. Disertasi Geertz memang khusus tentang Indonesia, tapi teori yang dibangun setelah selesai disertasi adalah untuk wacana internasional. Disertasi bukanlah akhir atau puncak karya, tapi awal dari karya-karya dan karir akademik yang lebih serius. Dengan disertasi yang kuat dan bagus, maka kemungkinan akan menjadi intelektual yang benar. Geertz kemudian terkenal dengan teorinya “religion as symbolic system” berkat studinya di Morocco dan Indonesia.
“Saya tahu diri dengan kapasitas saya, tapi tidak ada salahnya saya bermimpi akan menjadi orang seperti Clifford Geertz dalam bidang religious studies (bukan teologi). Selama mimpi, harapan, idealisme, dan semangat masih ada, saya kira akan sangat baik jika saya mengikuti dan memupuknya. Saya khawatir, pada suatu saat nanti, semangat/mimpi seperti ini akan mati dan diganti dengan semangat yang pragmatis. Untuk lebih tepatnya, saya ingin menyumbangkan teori tentang persoalan sektarianisme, kelompok agama minoritas, perpecahan dalam agama dan sejenisnya,” ungkap Ahmad Najib.
Berdasarkan tiga kriteria itu, dia akhirnya memilih mengkaji tentang Ahmadiyah dengan judulWhen Muslims are not Muslims: The Ahmadiyya Community and the Discourse on Heresy in Indonesia. Tema ini memenuhi kriteria pertama, sebagai pijakan menjadi ahli minority religions & religious sects. Untuk menjadi ahli bidang itu, tentunya tidak mungkin baginya untuk mengkaji seluruh kelompok keagamaan minoritas untuk disertasi. Pembatasan waktu penelitian dan scope of study membuat dia harus memilih satu topik yang terjangkau dan menarik.
“Saya punya waktu tiga tahun untuk menulis disertasi. Karena itu saya harus memilih satu dari beberapa kelompok agama minoritas di Indonesia. Dan pilihan saya jatuh ke Ahmadiyah,” jelasnya.
Tema ini juga memenuhi kriteria kedua, yaitu memperkenalkan dirinya ke kancah masyarakat internasional dan membawanya ke beberapa negara. Meski dia memfokuskan diri mengkaji Ahmadiyah di Indonesia, tapi Ahmadiyah ada di lebih dari 100 negara. “Disertasi yang saya tulis memungkinkan dikaji atau dibaca oleh peneliti dari berbagai negara. Atau, tulisan ini memungkinkan untuk dikembangkan, diadaptasi, dan sebagainya di banyak Negara,” kata dia.
Pendeknya, orang yang mungkin tertarik pada kajiannya bukan hanya mereka yang mengenal/mengkaji Islam di Indonesia, tapi juga orang yang mengkaji agama secara umum, termasuk pejabat pemerintah yang menghadapi masalah tentang pengungsi dan pencari suaka dari anggota Ahmadiyah dan juga lawyers dalam bidang imigrasi.
Teori Homo Sacer
Tema Ahmadiyah juga memenuhi kriteria ketiga. Tulisan-tulisan tentang Ahmadiyah di Indonesia didominasi oleh pendekatan sejarah, teologi, komunikasi, politik, dan HAM. “Nah, saya akan mengisi dengan perspektif yang berbeda yang saya ambilkan dari kajian religious studies, di antaranya kajian tentang persekusi dengan teori homo sacer dari Giorgio Agamben,” kata Ahmad Najib.
Di antara kesimpulan dari disertasinya itu adalah: Pertama, permusuhan terhadap Ahmadiyah itu bukan fenomena baru di Indonesia. Permusuhan itu sudah terjadi sejak Ahmadiyah datang tahun 1920-an. Namun demikian, ada perbedaan penting antara permusuhan terhadap Ahmadiyah pada masa lalu dan sekarang. Dulu, permusuhan itu terbatas bersifat diskursif, wacana. Sementara sekarang permusuhan itu mengarah terhadap penyerangan fisik, penghancuran rumah ibadah, pengusiran dan sejenisnya. Mengapa ini terjadi? Di antaranya adalah karena lemahnya negara menegakkan hukum dan memberi perlindingan terhadap minoritas. Dengan retorika demokrasi dan suara mayoritas, kelompok Islam garis keras memaksakan kehendaknya hingga pada titik-titik yang melanggar hukum. Tragisnya, ketika mereka melanggar hukum,  mereka tak mendapat hukuman yang setimpal, bahkan sering dibebaskan. Akibatnya, mereka semakin berani menyerang kelompok lemah seperti Ahmadiyah.
Kedua, fatwa sering dituduh sebagai penyebab penyerangan terhadap Ahmadiyah. Bagi saya, fatwa hanyalah satu faktor. Fatwa terhadap Ahmadiyah telah dikeluarkan organisasi Islam sejak tahun 1929. MUI pun telah mengeluarkan fatwa pada tahun 1980. Namun tidak ada penyerangan terhadap Ahmadiyah seperti sekarang. Bahkan pada tahun 1989, Ahmadiyah menang di pengadilan pada kasus pelecehan terhadap gambar Mirza Ghulam Ahmad yang dimuat oleh Serial Media Dakwah. Fatwa memberikan aura sakral atau ideological persuasiondalam penyerangan terhadap Ahmadiyah. Kalaulah pemerintah tegas menindak pelanggaran, maka fatwa ini tidak akan mampu membuat orang berbuat anarkis dan brutal.
Ketiga, posisi Ahmadiyah yang berada dalam posisi antara menjadi salah satu faktor yang dijadikan pembenaran oleh kelompok radikal untuk membenci Ahmadiyah dan memperlakukan mereka lebih buruk dari non-Muslim. Bahasa yang sering dipakai adalah: musuh dalam selimut, bisul, kanker, menusuk dari belakang, tumor, dan sejenisnya. Ahmadiyah pernah dianggap bagian dari Islam tapi kemudian dianggap membawa Islam ke arah dan tujuan berbeda dari Islam. Secara sosiologis, inilah menyebabkan banyak sekali kelompok yang dituduh heretik sering mengalami lebih buruk dari orang dengan agama yang sama sekali berbeda. Tentu saja secara normatif ini tak bisa dibenarkan. Dalam kondisi ketika kelompok konservatif dan gerakan radikal keagamaan meningkat, kelompok seperti ini sering menjadi korban paling mengenaskan.
Keempat, kolaborasi antara agama dan negara dalam menentukan ortodoksi atau pemahaman agama yang dianggap benar atau sah adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap persekusi Ahmadiyah yang beberapa tahun lalu tejadi di Indonesia. Posisi negara yang sekular adalah menganggap semua keyakinan sebagai ortodok atau benar. SKB tentang Ahmadiyah tahun 2008 menunjukkan bahwa negara telah mengambil posisi tertentu dalam keyakinan keagamaan, bukan lagi pada posisi netral.
Editor : Windrarto

Nabi Muhammad SAW Ajarkan Prinsip Demokrasi yang Menghindari Tirani Mayoritas

12:21 WIB | Selasa, 06 Agustus 2013
Ahmad Najib Burhani, di depan Universitas California, Santa Barbara (UCSB), Amerika Serikat. (Foto-foto: dok. Maarif Institute)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Pakar comparative religions within a single religious tradition (Islam) dan kajian tentang “konsep, teori, dan praktek heresy”, Ahmad Najib Burhani, mengatakan bahwa negara telah mengambil posisi tertentu dalam keyakinan keagamaan, bukan lagi pada posisi netral. Hal ini bertolak belakang dengan kehidupan berdemokrasi, yang saat ini tengah dibangun di Indonesia.
“Demokrasi diciptakan antara lain agar tak terjadi apa yang disebut dengan tirani mayoritas,” kata Najib kepada Satuharapan.com melalui surat elektronik yang dikirimnya pada hari Minggu (4/8), langsung dari Amerika Serikat.
Ada sejumlah pertanyaan yang diajukan kepadanya terkait dengan studi tentang kelompok minoritas keagamaan dalam Islam atau pecahan dari Islam. Berikut ini petikan wawancara dengan salah satu peneliti Maarif Institute for Culture and Humanity dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia  (LIPI) ini.
Siapakah yang dimaksud kelompok minoritas dalam penelitian Anda?
Mengenai definisi minoritas ini, umumnya para sarjana sepakat dengan definisi yang diberikan oleh Francesco Capotorti, mantan pakar di the UN Sub Commission on Prevention of Discrimination and Protection of Minorities (Memisoglu 2007, 4; Ghanea 2012, 4). Menurut Capotorti, yang disebut minoritas adalah, “a group, numerically inferior to the rest of the population of a State, in a non-dominant position, whose members – being nationals of the State – possess ethnic, religious or linguistic characteristics differing from those of the rest of the population and show, if only implicitly, a sense of solidarity, directed towards preserving their culture, traditions, religion or language” (Ghanea 2012, 4-5).
Mengikuti definisi dari Capotorti tersebut, maka dalam konteks Indonesia, yang disebut dengan agama minoritas tidak hanya merujuk kepada institusi yang menyatakan dirinya sebagai agama dengan jumlah pemeluk yang kecil seperti Madraisme, Permalim, Tolotang, Petuntung, Perbegu, Aluk To Dolo, dan Kaharingan, namun juga merujuk kepada komunitas-komunitas keagamaan kecil dalam agama besar seperti Shi‘ah dan Ahmadiyah di tengah komunitas Sunni Islam. Tentu saja untuk konteks Indonesia, agama selain Islam juga masuk dalam kategori minoritas.
Nasib kelompok minoritas keagamaan ini belakangan ini cukup menyedihkan. Karena itu butuh perhatian dan kepedulian khusus. Dalam konteks politik, kelompok minoritas tak terlalu berpengaruh dalam pemenangan calon gubernur atau presiden. Tapi esensi dari demokrasi sesungguhnya terletak, di antaranya, pada bagaimana seorang pemimpin yang terpilih dengan suara terbanyak itu melindungi kelompok minoritas. Demokrasi diciptakan antara lain agar tak terjadi apa yang disebut dengan tirani mayoritas. Karena itu, tes apakah demokrasi di suatu negara telah berjalan baik adalah bagaimana perlindungan terhadap minoritas di negara itu. Dalam konteks Islam, tes keislaman yang benar juga bagaimana seorang Muslim itu memperlakukan minoritas. Dalam sebuah sabdanya, Nabi Muhammad berkata, “Bukanlah bagian dari umatku jika ada kelompok mayoritas atau kuat tapi tak menyayangi minoritas atau lemah. Dan juga bukan bagian dari umatku jika ada kelompok minoritas tapi tak hormat kepada mayoritas.”  Sabda ini sangat relevan dengan prinsip demokrasi yang menghindari tirani mayoritas.
Bagaimana nasib kelompok minoritas itu?
Dalam kasus Ahmadiyah, misalnya, keyakinan Ahmadiyah bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi dianggap menodai Islam yang meyakini tiadanya nabi setelah Nabi Muhammad. Untuk melindungi ‘kesucian’ agama Islam, Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri lantas mengeluarkan lantas mengeluarkan Keputusan Bersama (SKB) tahun 2008 tentang Peringantan dan Perintah kepada Penganut, Anggota, dan/atau Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat. Intinya, SKB ini melarang warga Ahmadiyah menjalankan dan menyebarkan ajaran agama yang mereka anut.
SKB di atas justru menyulut munculnya beragama tindak intoleransi terhadap pengikut Ahmadiyah. Berdasarkan catatan Setara Institute, Ahmadiyah menjadi korban tindakan intoleransi lebih besar dari kelompok minoritas lain pada tahun 2008 dan tahun-tahun setelah itu. Dari 265 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan di Indonesia pada 2008, 193 peristiwa menimpa Ahmadiyah (Hasani dan Naipospos 2011, 1). Beberapa tokoh Islam meminta kepada pengikut Ahmadiyah untuk memilih antara kembali ke Islam versi mereka atau mendirikan agama baru. Dua pilihan yang mustahil dilakukan oleh pengikut Ahmadiyah yang taat. Ini adalah perpindahan agama secara paksa yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Islam. Perpindahannya bukan dari luar Islam ke Islam, tapi dari Islam ke luar Islam oleh tokoh-tokoh Islam sendiri.
Nasib yang plaing menyedihkan tentu saja terjadi di Asrama Transito, Mataram dan Cikeusik, Banten. Di Asrama Transito, sekitar 140 warga Ahmadiyah harus hidup seperti stateless people sejak tahun 2006 ketika mereka diserang, rumahnya dihancurkan, harta-bendanya dijarah, dan kemudian mereka diusir dari desanya. Mereka telah mengalami pengusiran berkali-kali dan setiap kali ingin kembali ke desa asalnya, mereka selalu diusir kembali. Di desa Umbulan, Cikeusik tiga warga Ahmadiyah dibunuh secara sadis ketika terjadi penyerangan terhadap rumah misi di sana pada awal 2011. Pembunuhan ini sangat sadis karena korban ditelanjangi, dipukuli dengan benda tumpul hingga meninggal. Dan bahkan, ketika korban sudah terlihat tak bernyawa pun, para penyerang masih mengekspresikan kebenciannya dengan terus melempari dengan batu dan menginjak-injak tubuh korban.
Mengapa kelompok seperti Ahmadiyah, Ismai’ili, Baha’i, Druze sering mengalami perlakukan lebih buruk dari non-Muslim di negara seperti Indonesia, Pakistan, Iran, dan Mesir?
Karena mereka dianggap tidak memiliki posisi keagamaan yang jelas. Mereka tidak bisa dikategorikan sebagai ahlul kitab yang memiliki tempat tertentu dalam teologi Islam dan harus dilindungi dalam pemahaman Islam lama. Mereka juga tidak bisa dikategorikan sama dengan mainstream umat Islam. Posisi mereka sering dianggap berada diantara Muslim dan non-Muslim. Konsekuensinya, hak-hak mereka sebagai orang Islam tidak diberikan dan hak-hak mereka sebagai non-Muslim masih ditahan hingga mereka mengakui sebagai non-Muslim. Kondisi ini menyebabkan tidak adanya perlindungan hukum dalam pemahaman kelompok Islam garis keras. Sosiologi tentang heresi dengan jelas menjelaskan tentang posisi kelompok yang sering dituduh sebagai heretik. Contoh yang sering saya pakai adalah tentang perceraian suami istri. Ketika terjadi perceraian yang tidak baik, maka suami atau istri itu sering melampiaskan kebeciannnya kepada bekas suami atau istrinya secara berlebihan. Kebenciannya kepada bekas suami atau istrinya itu jauh melebihi orang asing.
Apa yang saya tulis dalam disertasi saya yang berjudul When Muslims are not Muslims: The Ahmadiyya Community and the Discourse on Heresy in Indonesia adalah berusaha menganalisa tentang mereka yang identitas keagamaanya sering dianggap berada dalam posisi antara (liminal status) dengan menjadikan Ahmadiyah sebagai contoh utama. Ada tiga pendekatan utama yang saya pakai dalam disertasi ini. Pertama, saya melihat Ahmadiyah secara teologis: Bagaimana atau dimana posisi Ahmadiyah dalam pemahaman fiqh Islam klasik dan juga fatwa-fatwa kontemporer. Kedua, saya melihat secara sosiologis tentang posisi kelompok yang disebut heretik pada masyarakat beragama di Indonesia. Terakhir, saya melihat Ahmadiyah dengan pendekatan political-theology dengan terutama memakai perspektif dari Giorgio Agamben tentang homo sacer. Yang dimaksud dengan homo sacer disini bukanlah orang suci yang seperti umumnya dipahami. Konsep ini mengacu kepada mereka yang berada dalam posisi antara bisa dibunuh oleh siapapun dan pelakukan tak akan dihukum. Dalam konteks Ahmadiyah, posisi mereka itu sering dianggap antara orang suci dan orang yang ditabukan; mereka dianggap sebagai kelompok yang dekat dengan Tuhan dalam kelompoknya sendiri, tapi dianggap menjijikan oleh kelompok Muslim di luar mereka.
Sejauh mana Anda melihat fenomena keagamana bagi umat Islam (secara khusus) dan relasinya dalam umat beragama lain (Kristiani, misalnya), atau bagaimana relasi kelompok keagamaan-keagamaan di Amerika pasca 12 tahun tragedi WTC? Dan juga pasca wafatnya Osama bin Laden?
Bisa dikatakan bahwa meningkatnya kebencian kepada mereka yang berbeda, meningkatnya konservatisme keagamaan adalah fenomena global. Ini tidak hanya terjadi di negara Muslim, tapi juga di negara Kristen, Hindu, Buddha, dan negara sekuler. Peristiwa 11 September 2001 hanya satu simbol semakin meningkatnya konservatisme dan radikalisme ini. Banyak orang mengatakan bahwa apa yang terjadi sekarang ini adalah “the last breath of religion before its permanent death” atau nafas terakhir dari agama sebelum ia mengalami kematian total. Namun banyak juga yang menyebut ini sebagai perlawanan terhadap sekularsime yang ternyata tak bisa memenuhi janji-janjinya untuk menenteramkan dan mensejahterakan umat manusia. Namun saya melihat fenomena ini sebagai kebingunan dan kebimbangan umat manusia menghadapi perubahan yang cepat, dunia yang semakin plural, dan kaburnya hampir seluruh batas-batas norma tradisional yang sering dipegangi orang. Meningkatnya imigrasi, pernikahan sejenis, perubahan iklim, dan sejenisnya membuat manusia bingung mencari pegangan yang pasti.
Editor : Windrarto

Wednesday, August 7, 2013

Satu Cinta, Satu Cita-Cita

Koran Sindo, 3 Agustus 2013

Sebagian besar masyarakat tidak akan menolak dengan anggapan yang menyebutkan bahwa antara “cinta” dengan “citacita” itu berdekatan, bahkan tidak berjarak.

Dengan kekuatan cinta, setiap insan akan dimudahkan dalam meraih citacita yang diinginkannya. Orang yang mencintai sastra misalnya, kesempatan untuk menjadi pujangga akan terbuka lebar; atau pemuda yang suka memainkan gitar, siapa yang sangka jika esok hari dia akan menjadi pemusik terkenal.

Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi pada pasangan suami- istri yang menikah karena dipertemukan dengan cita-cita yang sama. Sejoli ini adalah Ahmad Najib Burhani dan Tuti Alawiyah Burhani. Keduanya punya semangat kuat untuk memajukan dunia penelitian nasional ke tingkat global. Untuk di Indonesia, Najib bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB)–Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sedangkan Tuti adalah peneliti di Pusat Bahasa dan Budaya (PBB) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Keduanya kerap berkontribusi dalam berbagai konferensi internasional di sejumlah negara. Najib menyelesaikan studi PhD-nya di Universitas California, Santa Barbara (UCSB), Amerika Serikat (AS) atas beasiswa Fulbright (Juni 2013). Sementara sang kekasih menamatkan juga PhD-nya di UniversitasTexas (UT), Austin, AS dengan beasiswa Ford Foundation (Juli 2013). Keduanya dipertemukan karena sama-sama mencintai dunia pendidikan dan penelitian.

“Kita lulus PhD hampir bersamaan. Meski nilai itu jarang ditanyakan, kita sama-sama mendapat nilai cum laude. IPK saya, misalnya, 3,9 dari maksimal 4,0. Tuti bahkan bisa menyelesaikan program master tambahan selain program doktoralnya. Dia menyelesaikan MSW (Master of Social Work) di tahun 2012, juga dari UT, Austin,” jelas Najib kepada KORAN SINDO. Awal perjumpaan keduanya dimulaiketikasama-samaaktifdi organisasi pergerakan ekstra kampus Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Setelah itu, keduanya sering terlibat dalam riset di bidang keagamaan secara bersama-sama. Bahkan dalam upayanya mencari beasiswa pendidikan ke luar negeri, juga dilakukan secara berbarengan. Najib menyadari bahwa untuk mendapatkan hati Tuti tidak mudah ketika itu. Pasalnya, banyak teman cowok di sekelilingnya yang mendekati dia. Bahkan, mereka menyatakan secara terbuka menyukainya.

“Melihat sikap cowok-cowok yang mendekatinya, saya mengambil langkah yang berbeda. Saya tidak mengekspresikan kesukaan saya dengan kata-kata, tapi aktif dalam berbagai kegiatan dengannya. Rupanya dia menyadari pedekate yang saya lakukan,” aku Najib yang juga aktif sebagai peneliti di Ma’arif Institute. Akhirnya, meski tetap tanpa kata-kata dari kedua belah pihak, ternyata sejoli ini saling memahami dan mencintai. Dalam jangka waktu setahun berpacaran, akhirnya keduanya menjalin ikatan pernikahan dalam usia yang masih relatif muda.

“Saya melihat Tuti itu cerdas, cantik, dan tipikal pacarannya aktivis. Jadi itu yang membuat saya penasaran dan jatuh hati,” tutur pria yang menyelesaikan studi magisternya di Leiden University, Belanda (2004) dengan nilai cum laude ini. Pada 2003, Tuti menamatkan studi magisternya di Kajian Wanita Universitas Indonesia (UI). Jadi, pasangan ini tidak hanya punya ketertarikan yang sama di bidang penelitian, tapi juga saling cinta terhadap wacana keilmuan. Hal itu kini diteladankan kepada kedua putrinya, Shopia Fatima, 12, dan Faira Nahla, 7, yang masih belajar di Negeri Paman Sam.

“Pada 2004, saya dengan istri punya pengalaman menarik. Saat itu saya menemaninya mendaftar Chevening
Scholarship dari British Council untuk ambil magister di Inggris. Daripada sekadar menemani dan duduk-duduk, saya akhirnya ikut mengisi formulir dan tes Bahasa Inggris. Karena saya sudah lulus dari Belanda, akhirnya justru saya yang diterima di Chevening,” kenang pria yang belum lama ini menerima penghargaan The Professor Charles Wendell Memorial Award 2012-2013 dari UCSB ini.

Kini setelah menamatkan program doktoralnya, keduanya banyak terlibat dalam kegiatan akademik di AS. Najib tercatat aktif di AAR (American Academy of Religion), AAS (Association of Asian Studies), dan MESA (Middle East Studies Association). Dia juga kerap menulis artikel di berbagai jurnal internasional. Adapun Tuti aktif sebagai asisten profesor di UT, peneliti, dan dosen Social Work Statistik di UT. ●nafi’ muthohirin

http://www.koran-sindo.com/node/320907

Tuesday, August 6, 2013

Peneliti Indonesia Raih Charles Wendell Award

Reportase24.com, 02 Aug 2013 // BeritaBerita PilihanEdukasi

Jakarta – Satu lagi peneliti dari Indonesia mendapat pengakuan internasional. Ahmad Najib Burhani, peneliti di MAARIF Institute for Culture and Humanitydan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), baru saja mendapatkan penghargaan The Professor Charles Wendell Memorial Award 2012-2013 dari Universitas California, Santa Barbara (UCSB).

Berdasarkan siaran pers Maarif Institute, pidato pemberian penghargaan itu disampaikan oleh Juan E. Campo, Profesor Studi Islam dan Kajian Timur-Tengah di UCSB yang juga salah satu murid Fazlur Rahman (tokoh neo-modernist Muslim ternama), di McCune Conference Hall UCSB pada 5 Juni 2013.

Penghargaan ini diberikan kepada Najib Burhani atas prestasinya dalam pengembangan Studi Islam dan Kajian Timur Tengah di Amerika Serikat. “Dalam beberapa tahun terakhir, Najib Burhani banyak berkontribusi dan mempresentasikan penelitian di berbagai konferensi, workshop, dan seminar di Amerika Serikat dan negara lain”, ungkap Campo, yang merupakan salah satu promotor penelitian disertasinya.

Penelitiannya terpilih untuk dipresentasikan di pertemuan tahunan AAR (American Academy of Religion) di Chicago; workshop tentang Arab Spring di Doha, Qatar; simposium tentang Kajian Asia Tenggara di Universitas Oxford, Inggris; konferensi tentang Kajian Indonesia di Universitas California, Los Angeles (UCLA); workshop tentang Milisia dan Kekerasan Keagamaan di Nasional University of Singapore (NUS); dan konferensi tentang Kelompok Minoritas dalam Islam di Universitas Wake Forest, Winston-Salem, North Carolina.

Selain presentasi dalam pertemuan ilmiah, Najib Burhani juga menerbitkan sejumlah karya ilmiah di beberapa jurnal internasional ternama seperti Contemporary Islam (Springer), Asian Journal of Social Sciences (Brill – NUS), Indonesia and the Malay World (Roudledge – SOAS), dan Islam and Christian-Muslim Relations (Roudledge – Birmingham). Najib Burhani juga menerbitkan tulisan di buku terbitanUniversity Presses seperti Oxford University Press, Amsterdam University Press, dan ISEAS (Institute of Southeast Asian Studies).

Selama di Amerika Serikat, Najib Burhani menekuni kajian yang jarang diteliti oleh ilmuwan di negeri Paman Sam ini, yaitu tentang kelompok minoritas keagamaan dalam Islam, atau yang telah terlepas dari Islam, seperti Ahmadiyah, Baha’i, Isma’ili, Druze, dan Yazidi.

Menurut Doktor kajian agama (religious studies) ini, “kelompok minoritas keagamaan sering mengalami nasib buruk di beberapa negara Islam seperti Pakistan, Iran, Mesir, dan Indonesia. Kajian tentang tema ini menarik terutama ketika dibahas dalam konteks meningkatnya kelompok konservatif dan radikal keagamaan yang memaksakan keislaman tertentu sebagai yang satu-satunya yang sah”. “Kajian ini juga menarik ketika dikaitkan dengan hubungan agama dan negara dalam menentukan ortodoksi”, lanjut Burhani.

Untuk disertasi doktoralnya, Najib Burhani menulis tentang Ahmadiyah dengan judul When Muslims are not Muslims: The Ahmadiyya Community and the Discourse on Heresy in Indonesia. Disertasi ini dibimbing oleh empat professor kenamaan dibidangnya, yaitu: Mark Juergensmeyer (sosiologi agama), Stephen Humphreys (sejarah Islam), Ahmad Atif Ahmad (hukum Islam), dan Juan Campo (gerakan Islam). Edisi Bahasa Indonesia dari disertasi ini akan diterbitkan oleh penerbit Mizan, Bandung. Untuk edisi bahasa Inggris, sebagian akan diterbitkan oleh Oxford University Press.
Red: Roni

http://www.reportase24.com/peneliti-indonesia-raih-charles-wendell-award/

Monday, August 5, 2013

Mantap, Najib Burhani Terima Penghargaan The Professor Charles Wendell Memorial Award dari UCSB

Rakyat Merdeka, Kamis, 01 Agustus 2013 , 16:05:00 WIB
Laporan: Zulhidayat Siregar

RMOL. Satu lagi peneliti dari Indonesia mendapat pengakuan internasional. 

Ahmad Najib Burhani, peneliti MAARIF Institute for Culture and Humanity dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) baru saja mendapatkan penghargaan The Professor Charles Wendell Memorial Award 2012-2013 dari Universitas California, Santa Barbara (UCSB). 

Pidato pemberian penghargaan disampaikan oleh Juan E. Campo, Profesor Studi Islam dan Kajian Timur-Tengah di UCSB yang juga salah satu murid Fazlur Rahman, tokoh neo-modernist Muslim ternama, di McCune Conference Hall UCSB pada 5 Juni 2013.

Penghargaan ini diberikan kepada Najib Burhani atas prestasinya dalam pengembangan Studi Islam dan Kajian Timur Tengah di Amerika Serikat. 

“Dalam beberapa tahun terakhir, Najib Burhani banyak berkontribusi dan mempresentasikan penelitian di berbagai konferensi, workshop, dan seminar di Amerika Serikat dan negara lain”, ungkap Campo, yang merupakan salah satu promotor penelitian disertasinya, seperti disebutkan dalam keterangan yang diterima dari Maarif Institute sesaat lalu (Kamis, 1/8).

Penelitiannya terpilih untuk dipresentasikan di pertemuan tahunan AAR (American Academy of Religion) di Chicago; workshop tentang Arab Spring di Doha, Qatar; simposium tentang Kajian Asia Tenggara di Universitas Oxford, Inggris; konferensi tentang Kajian Indonesia di Universitas California, Los Angeles (UCLA); workshop tentang Milisia dan Kekerasan Keagamaan di Nasional University of Singapore (NUS); dan konferensi tentang Kelompok Minoritas dalam Islam di Universitas Wake Forest, Winston-Salem, North Carolina.

Selain presentasi dalam pertemuan ilmiah, Najib Burhani juga menerbitkan sejumlah karya ilmiah di beberapa jurnal internasional ternama seperti Contemporary Islam (Springer), Asian Journal of Social Sciences (Brill-NUS), Indonesia and the Malay World (Roudledge-SOAS), dan Islam and Christian-Muslim Relations (Roudledge-Birmingham). 

Najib Burhani juga menerbitkan tulisan di buku terbitan University Presses seperti Oxford University Press, Amsterdam University Press, dan ISEAS (Institute of Southeast Asian Studies).

Selama di Amerika Serikat, Najib Burhani menekuni kajian yang jarang diteliti oleh ilmuwan di negeri Paman Sam ini, yaitu tentang kelompok minoritas keagamaan dalam Islam, atau yang telah terlepas dari Islam, seperti Ahmadiyah, Baha’i, Isma’ili, Druze, dan Yazidi.

Menurut Doktor kajian agama ini, kelompok minoritas keagamaan sering mengalami nasib buruk di beberapa negara Islam seperti Pakistan, Iran, Mesir, dan Indonesia. Kajian tentang tema ini menarik terutama ketika dibahas dalam konteks meningkatnya kelompok konservatif dan radikal keagamaan yang memaksakan keislaman tertentu sebagai yang satu-satunya yang sah. 

“Kajian ini juga menarik ketika dikaitkan dengan hubungan agama dan negara dalam menentukan ortodoksi,” lanjut Burhani, yang mengeyam pendidikan S1 di UIN Jakarta.

Untuk disertasi doktoralnya, Najib Burhani menulis tentang Ahmadiyah dengan judul When Muslims are not Muslims: The Ahmadiyya Community and the Discourse on Heresy in Indonesia. 

Disertasi ini dibimbing oleh empat professor kenamaan dibidangnya, yaitu: Mark Juergensmeyer (sosiologi agama), Stephen Humphreys (sejarah Islam), Ahmad Atif Ahmad (hukum Islam), dan Juan Campo (gerakan Islam). Edisi Bahasa Indonesia dari disertasi ini akan diterbitkan oleh penerbit Mizan, Bandung. Untuk edisi bahasa Inggris, sebagian akan diterbitkan oleh Oxford University Press. [zul]

Sunday, August 4, 2013

Peneliti Maarif Institute Mendapat Penghargaan Internasional

Penulis: Melki Pangaribuan
Satu Harapan, 17:02 WIB | Kamis, 01 Agustus 2013

CALIFORNIA, SATUHARAPAN.COM - Peneliti dari Maarif Institute, Ahmad Najib Burhani, memperoleh penghargaan The Professor Charles Wadell Memorial Award 2012-2013 dari Universitas California, Santa Barbara (UCSB), atas prestasi dalam pengembangan Studi Islam dan Kajian Timur Tengah di Amerika Serikat.

Pidato penganugerahan disampaikan oleh Profesor Studi Islam dan Kajian Timur-Tengah di UCSB, Juan E. Campo, yang juga salah satu murid Fazlur Rahman (tokoh neo-modernist Muslim ternama), pada Kamis, (5/6) di McCune Conference Hall UCSB.

“Dalam beberapa tahun terakhir, Najib Burhani banyak berkontribusi dan mempresentasikan penelitian di berbagai konferensi, workshop, dan seminar di Amerika Serikat dan negara lain”, ungkap Campo, salah satu promotor penelitian disertasi Najib Burhani, seperti diliris Direktur Riset Maarif Institute, Ahmad Fuad Fanani, pada Kamis ini (1/8).

Ahmad Najib Burhani, adalah peneliti di Maarif Institute for Culture and Humanity dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia  (LIPI). Hasil penelitiannya terpilih untuk dipresentasikan dalam sejumlah pertemuan, seperti American Academy of Religion (AAR) di Chicago dan Arab Spring di Doha, Qatar.

Selain itu, penelitian Burhani disampaikan dalam simposium tentang Kajian Asia Tenggara di Universitas Oxford, Inggris, dan sejumlah universitas luar negeri lainnya. Selain presentasi dalam pertemuan ilmiah, Najib Burhani juga menerbitkan sejumlah karya ilmiah di beberapa jurnal internasional ternama seperti Contemporary Islam (Springer), Asian Journal of Social Sciences (Brill – NUS), Indonesia and the Malay World (Roudledge – SOAS), dan Islam and Christian-Muslim Relations (Roudledge – Birmingham).

Najib Burhani juga menerbitkan tulisan di buku terbitan University Presses seperti Oxford University Press, Amsterdam University Press, dan ISEAS (Institute of Southeast Asian Studies).

Selama di Amerika Serikat, Najib Burhani menekuni kajian yang jarang diteliti oleh ilmuwan di negeri Paman Sam ini, yaitu tentang kelompok minoritas keagamaan dalam Islam, atau yang telah terlepas dari Islam, seperti Ahmadiyah, Baha’i, Isma’ili, Druze, dan Yazidi.

“Kelompok minoritas keagamaan sering mengalami nasib buruk di beberapa negara Islam seperti Pakistan, Iran, Mesir, dan Indonesia. Kajian tentang tema ini menarik terutama ketika dibahas dalam konteks meningkatnya kelompok konservatif dan radikal keagamaan yang memaksakan keislaman tertentu sebagai yang satu-satunya yang sah,” kata Burhani, Doktor kajian agama (religious studies).

“Kajian ini juga menarik ketika dikaitkan dengan hubungan agama dan negara dalam menentukan ortodoksi,” kata Burhani, yang menulis disertasi doktoralnya tentang Ahmadiyah dengan judul "When Muslims are not Muslims: The Ahmadiyya Community and the Discourse on Heresy in Indonesia."

Editor : Yan Chrisna

http://satuharapan.com/content/read/peneliti-maarif-institute-mendapat-penghargaan-internasional/

Saturday, August 3, 2013

Intelektual Muda Muhammadiyah Ahmad Najib Burhani Dapat Award, Juga Ismatu Ropi dari UIN Jakarta

RIMA: Review of Indonesia and Malaysia Affairs
Thu, 01/08/2013 - 15:52 WIB

JAKARTA-Intelektual muda Muhammadiyah Ahmad Najib Burhani PhD (Peneliti MAARIF Institute dan LIPI) baru-baru ini memperoleh Professor Charles Wendell Memorial Award 2012-2013 dari Universitas California, Santa Barbara (UCSB), Amerika Serikat. Najib Burhani yang  bersemangat meneruskan jejak sang guru, Buya Ahmad Syafii Maarif (dalam gambar  Najib Burhani dan Buya Syafii) adalah alumnus UIN Jakarta, berwatak pluralis dan humanis.
Dalam laporan bahasa Inggris, dilaporkan bahwa: Ahmad Najib Burhani is 2007 Fulbright student grantee who earned his Ph.D. in Religious Studies at the University of California, Santa Barbara. Back home, he is staff member of the Indonesia Institute of Sciences (LIPI).

Ahmad Najib Burhani was awarded the Professor Charles Wendell Memorial Award 2012-2013 from University of California, Santa Barbara (UCSB), for his academic achievement in the field of Islamic and Middle Eastern Studies. Presentation for the award was delivered by Juan E. Campo, Professor of Religious Studies at UCSB, during the annual honorary awards ceremony on June 5, 2013.

Born on May 5, 1919 in New York City, Charles Wendell led an extremely active and diversified life. He was Professor of Germanic and Slavic Languages and also Professor of Religious Studies at UCSB. A meticulous scholar, Wendell, whose articles were erudite and enlightening, contributed to several important books on Middle Eastern culture and civilization. But his interests were quite broad, ranging from the history of early Islam to intellectual developments in modern Egypt. Very early in his scholarly career Wendell's translation of Muhammad Abduh by Osman Amin was published by the American Council of Learned Societies. Later books included The Evolution of the Egyptian National Image: from its Origins to Ahmad Lutfi al-Sayyid and Five Tracts of Hasán al-Banná (both by UC Press). At his death Professor Wendell was engrossed in a long-range, two-volume project on the 8th-century Arabic classic The Book of Kalilah and Dimnah. Planned and begun were a new translation of the work and a full volume to "deal as exhaustively as possible with the biography of the author and his historical and cultural ambience."

Sementara itu, Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta , Ismatu Ropi Ph.D berhasil meraih penghargaan “Ann Bates Postgraduate Prize for Indonesian Studies  2012”  dari The Australian National University (ANU). Penghargaan tersebut diberikan sebagai apresiasi penulisan disertasi terbaik (the most outstanding thesis) untuk studi-studi Indonesia di kampus tersebut.

Untuk menamatkan studi doktoral pada School of Culture, History and Language ANU College of Asia and the Pacific ANU, Canberra, Australia, pada tahun 2011, Ismet -panggilan akrab Ismatu Ropi- menulis disertasi bertajuk “The Politics of Regulating Religion : State, Civil Society and the Quest for Religious Freedom in Modern Indonesia.”
Penulisan disertasi di bawah bimbingan Indonesianis Professor Greag Fealy ini mengkaji politik regulasi keberagamaan di Indonesia. Selain alasan topik penelitiani, standar penilaian disertasi terbaik juga didasarkan pada penggunaan literatur yang menjadi referensi dalam penulisannya. Sementara penilaiannya sendiri dilakukan oleh Dekan dan Tim Panel Ahli Studi Indonesia (Indonesianis) tanpa diketahui peneliti maupun professor pembimbing sehingga terjamin independensi penilaiannya.

Selama 5 tahun terakhir, penghargaan Ann Bates Postgraduate Prize for Indonesia Studies sendiri tidak diberikan oleh ANU karena tidak ditemukan disertasi yang memenuhi kriteria penghargaan tersebut.

"Banyak yang diajukan, tapi rapat Dewan Panel yang terdiri dari kalangan Profesor Ahli Indonesia melihat belum mendapatkan disertasi tema-tema ke-Indonesiaan ada yang cukup memenuhi syarat untuk dianugerahi penghargaan tersebut," papar jebolan Master of Arts pada the Institute of Islamic Studies Faculty of Graduate Studies and Researches McGill University, Montreal, Canada ini di Kantor Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM), Selasa (30/7/2013).

Penghargaan Ann Bates diberikan sejak tahun 2001 untuk mengenang Ann Coomb Bates (1907-2000). Semasa hidupnya, perempuan kelahiran Edinburgh, Skotlandia ini aktif pada United Association of Women, sebuah organisasi yang secara progresif mendorong perbaikan posisi sosial politik perempuan. Salah satu gagasannya yang terkenal adalah pentingnya universitas dan pendidikan bagi pemahaman lebih baik masyarakat berbeda budaya. ( Zaenal Muttaqin)