17 Mei 2006 - 15:04 (Diposting oleh: Rumah Dunia)
IJAH FAIJAH: WANITA ITU TIANG AGAMA
OLEH ALFY
�Wanita adalah tiang agama, jika wanita itu baik maka baiklah negara itu, dan jika wanitanya rusak maka rusaklah negara itu,� begitu kata ketua Yayasan Bina Wanita Bahagia (BWB), ibu Ijah Faijah, A.Ma, SH. Saat ditemui di kediamannya di komplek Penancangan, Serang, Banten. Bagi ibu muda beranak enam ini, mengelola sebuah yayasan di bidang sosial merupakan salah satu dari perwujudan prinsipnya: Illah, billah, lillah.
Putri pasangan K.H. Moch. Amin dan Hj. Aslamiyah ini lahir pada 10 Oktober, tiga puluh delapan tahun silam. Kepeduliannya terhadap anak-anak yang kurang mampu menjadi latar belakang niatnya untuk mendirikan yayasan tersebut. Menurutnya Yayasan BWB ini tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan sosial. Sehingga pada pelaksanaannya berbagai kegiatan sosial dibuat. �Ini merupakan realisasi dari cita-cita kami, yakni memajukan SDM (Sumber Daya Manusia) bagi anak-anak jalanan, pengamen, pemulung, serta para ibu yang ingin meraih kebahagiaan dunia dan akhirat,� jelas Ijah yang juga ketua SALIMAH Banten, pengurus BKOW, dan pengurus Yayasan BINDAS ini.
Sebagai orang yang peduli kepada pendidikan, Istri dari (Alm) Agus Miftah yang sarjana hukum dari Universitas Mathla�ul Anwar ini berharap bisa mendirikan lembaga pendidikan yang gratis untuk anak-anak jalanan. Katanya, �Anak jalanan itu tidak seperti pohon jagung dan padi, ditanam lalu tumbuh dalam waktu singkat. Mereka lebih ibarat pohon jati. Kita tidak melihat hasilnya sekarang, tapi nanti 25 tahun yang akan datang. Mereka akan menjadi sosok yang mengguncang dunia!�
Semua aktifitas sosial yang dilakukannya sekarang, menurutnya, dilatar belakangi oleh rasa prihatin terhadap masalah sosial yang dihadapi bangsa Indonesia, khususnya di provinsi Banten. Melalui yayasan yang didirikan pada 8 Februari 2000 inilah Ibu Ijah mengamalkan ilmu dan mendermakan hartanya. Travelling atau Tadabbur alam yang menjadi hobinya ia manfaatkan sebagai ladang dakwah dalam mencapai kebahagiaan hakiki.
Selain sebagai ketua Yayasan BWB, Ibu Ijah ini juga ternyata seorang pembicara yang sering diundang ke berbagai seminar, termasuk seminar yang biasa diadakan oleh perguruan tinggi. Lalu pada 2003 kemarin dia mewakili Banten dalam Diklat Pekerja Sosial se-Indonesia di Jakarta dan Bogor. Di acara yang berlangsung selama 14 hari tersebut, Ibu Ijah terpilih menjadi wakil ketua.
Pemred Bulettin Az-Zukhruf (1988-1989), pembina dan pengasuh beberpa majelis ta�lim, penceramah, mantan ketua kewanitaan DPD PK Kabupaten Serang, Konsultan Pendidikan World Book P.T. TIRA (1995), Sekretaris BP4, dan bendahara BKM, adalah jabatan-jabatan lain yang pernah disandangnya.
Apa yang pernah terjadi kepada Ibu Ijah sepertinya pernah juga terjadi kepada orangtua sekarang pada masa kecil, yaitu ketika akan masuk sekolah, pihak sekolah meminta calon murid untuk memegang kuping yang berlawanan dengan tangannya. Misal tangan kanan harus bisa menyentuh kuping kiri dan sebaliknya. Bila kuping itu bisa disentuh, maka calon murid bisa masuk sekolah. �Usia saya sudah cukup, tapi sayakan masih kecil, jadi tangan saya pendek. Seharunya saya tidak diterima jadi siswa di sekolah itu. Tetapi karena bapak saya ustad dan tokoh masyarakat, akhirnya saya diterima,� kenangnya.
Di rumah Ibu Ijah dikenal anaknya sebagai pribadi yang demokratis. Bila akan pergi keluar biasanya ia akan meminta izin kepada anaknya. Ini dilakukan antara lain agar anaknya tahu ke mana ibunya pergi. �Selain memang di rumah tidak ada pembantu.� A/S
Penulis adalah siswa kelas menulis angkatan ke-7
1 comment:
Kaka, teh Ijah Faijah itu bibi mama, adiknya Umi, mamanya teh Fani saudara sepupu kaka.
Teh Ijah banyak melakukan kegiatan untuk kepentingan perempuan dan anak-anak di Serang Banten.
Post a Comment