Friday, February 5, 2016

Tradisi Menulis di Jurnal Akademik

Koran Sindo, Edisi 02-01-2016
Tradisi Menulis di Jurnal Akademik
Ahmad Najib Burhani  

Beberapa riset tentang tradisi ilmiah di Indonesia, seperti dilakukan Komang Wiryawan dalam artikelnya yang berjudul ” The current status of science journals in Indonesia ” (2014), menyebutkan bahwa jumlah publikasi ilmiah dalam bentuk jurnal yang diterbitkan oleh ilmuwan Indonesia kalah jauh dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. 

Peringkat publikasi ilmiah ilmuwan Indonesia hanya sedikit lebih baik dibandingkan Filipina dan Vietnam. Dari tahun 1996 hingga 2013, menurut data dari SCImago, Singapura telah menerbitkan 171.037 dokumen, Malaysia memiliki 125.084 dokumen, Thailand 95.690 dokumen, sementara Indonesia hanya menerbitkan 25.481 artikel. Untuk jumlah jurnal Indonesia yang terindeks scopus, sebetulnya terdapat peningkatan yang cukup signifikan. 

Jika tahun 2011 hanya terdapat 11 jurnal yang terindeks scopus, kini terdapat 20 jurnal yang telah masuk dalam indeks global itu. Ini tentu merupakan pertumbuhan signifikan bila dibandingkan dengan negara tetangga. Thailand, misalnya, tidak beranjak dari angka 26 dari tahun 2011 hingga 2015. Filipina mengalami pertambahan dari angka 13 menjadi 22. 

Sementara Malaysia dari 46 jurnal menjadi 79 jurnal (Subekti, 2015). Terlepas dari perdebatan mengenai penggunaan scopus sebagai kriteria, tetap perlu dipertanyakan mengapa jumlah terbitan ilmiah kita masih kalah dibandingkan dengan negara tetangga? Pertanyaan itu sangat penting diperhatikan karena Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. 

Singapura yang memiliki kurang dari 5% dibandingkan penduduk Indonesia ternyata memiliki jumlah terbitan ilmiah jauh lebih tinggi. Demikian juga dengan Thailand dan Malaysia, penduduk negeri itu juga jauh lebih kecil dari Indonesia. Salah satu jawaban dari pertanyaan itu adalah karena akademisi kita belum memiliki tradisi atau budaya ilmiah yang kuat. 

Kita belum terbiasa menulis di jurnal ilmiah, apalagi yang berbahasa Inggris. Hal mengejutkan adalah ada beberapa orang seperti Acep Iwan Saidi dalam tulisan di Kompas (17/ 11) yang justru membela tradisi tidak menulis ilmiah pagi dosen dan ilmuwan ilmu sosial dan humaniora. 

Menurutnya, tidak mungkin seorang pengajar seni tradisional dan bahasa daerah bisa menerbitkan di jurnal internasional karena risetnya berkaitan dengan isu atau kasus lokal Indonesia sementara mereka yang mengevaluasi adalah orang asing. Logika ini sama sekali tidak benar. 

Keunikan seni, budaya, dan bahasa di Indonesia itulah yang justru menarik jurnal internasional dan memiliki potensi besar untuk terbit. Justru hal yang lokal dan khas itu yang membuat akademisi asing tertarik untuk membaca dan menerbitkannya. Tapi tentu saja tulisan tentang peristiwa lokal itu harus dikaitkan dengan konteks global baik secara teori maupun kasus, bukan dilihat sebagai sesuatu peristiwa lokal yang mandiri. 

Jawaban lainnya berkaitan dengan anggapan bahwa puncak karier seorang akademisi adalah keterkenalan di publik. Inilah yang menyebabkan beberapa ilmuwan lebih mementingkan tampil di televisi, menulis di koran, dan membuat status di media sosial daripada menulis di jurnal akademik yang pembacanya sangat terbatas. Mereka menganggap bahwa yang paling mempengaruhi kebijakan publik dan politik adalah televisi atau koran. 

Sedihnya, anggapan itu sering kali benar. Sikap pemerintah dalam mengambil kebijakan sering kali didasarkan pada catatan pendek di koran daripada penelitian serius di jurnal. Anggapan bahwa menulis opini di koran dan majalah sebagai prestasi akademik dalam dunia tulis-menulis bisa menyesatkan, apalagi jika karya opini koran dinilai sebagai capaian tertinggi karya seorang ilmuwan. 

Artikel di koran hanyalah opini dan tempat menyosialisasikan gagasan yang lebih utuh kepada masyarakat umum. Gagasan lengkap seorang akademisi terwujud dalam bentuk tulisan di jurnal ilmiah dan dalam bentuk buku akademik. Membuat satu artikel untuk jurnal ilmiah memang memerlukan waktu yang jauh lebih panjang dibandingkan dengan menulis opini di koran. 

Jika menulis opini cukup dengan sekali duduk selama beberapa jam, menulis artikel akademik perlu waktu paling tidak satu bulan. Ini belum termasuk waktu yang diperlukan untuk pencarian data. Setelah selesai menulis, diperlukan waktu minimal enam bulan untuk bisa diterbitkan dalam jurnal akademik bergengsi. 

Lama dan detailnya proses evaluasi sering membuat orang tidak sabar untuk mengirimkan tulisannya di jurnal bergengsi dan bahkan beberapa orang terjebak perangkap jurnal predator atau jurnal abal-abal . Tahun 2012 lalu ada tulisan dari Zulfan Tadjoeddin di internet yang sangat menarik, judulnya ” Jurnal Internasional Asal-asalan dan Nono Lee Affair”. 

Tulisan ini ingin menunjukkan bahwa jurnal abalabal itu hanyalah mesin pencari uang dengan sasaran mangsa para akademisi yang terobsesi memiliki karya ilmiah internasional. Jurnal model ini tidak melakukan reviu, mengecek, dan mengedit tulisan sebagaimana umumnya jurnal ilmiah. Dengan identitas yang tak jelas, alamat palsu, dan plagiasi pun bisa terbit asal penulis mau membayar sejumlah uang. 

Selain tulisan tentang Nono Lee, ada tulisan yang tak kalah menariknya dari Uli Kozok. Tulisan yang berjudul ”Predatory Publishing: A Case Study ” itu menunjukkan beberapa contoh dari akademisi Indonesia yang terjerat jurnal predator atau bahkan menjadi editor dari jurnal abal-abal. Tulisan itu juga menjelaskan trik-trik jurnal predator mencari mangsa dan menguraikan mengapa jumlah orang Indonesia yang terjerat sangat tinggi. 

Karena obsesi menerbitkan di jurnal ilmiah internasional sangat tinggi dan ditambah lagi dengan tuntutan dari kampus dan Kemenristek-Dikti untuk menerbitkan di jurnal ilmiah internasila sebagai bagian persyaratan menjadi doktor atau profesor, maka banyak akademisi Indonesia yang termangsa jurnal abalabal . Jurnal-jurnal ini sering mengklaim bahwa mereka melakukan proses reviu dan terbitannya telah terindeks oleh scopus atau sistem indeks global lain. 

Namun, ini semua hanya klaim semata. Tulisan sejelek apa pun bisa diterbitkan oleh jurnal ini asalkan mau membayar angka sekitar USD290. Pada akhirnya, bangsa ini memang harus meningkatkan tradisi menulis di jurnal akademik dan bersaing dengan negara lain dalam produktivitas karya ilmiah yang diakui dunia. 

Namun demikian, jangan sampai obsesi tersebut membuat kita mengambil jalan pintas yang bisa dengan mudah menjerumuskan diri untuk termakan oleh predator dunia akademik. 

AHMAD NAJIB BURHANI 
Peneliti di Puslit Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) 

http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=0&date=2016-01-02
http://lipi.go.id/berita/single/Tradisi-Menulis-di-Jurnal-Akademik/12393