Godsdienstwetenschapper Ahmed Najib Burhani: ‘Ik verdedig minderheden’
De Indonesiƫr Ahmed Najib Burhani bekeerde zich van conservatieve naar ruimdenkende moslim. Hij is een man met een missie: op de bres staan voor religieuze minderheden in zijn land. Stefan Franz.
Gepubliceerd in Volzin
De Indonesiƫr Ahmad Najib Burhani bekeerde zich van een conservatieve naar een ruimdenkende moslim. Sindsdien is hij niet slechts godsdienstwetenschapper maar een man met een missie. Hij staat hij op de bres voor religieuze minderheden in zijn land.
Nadat ik hem de hand heb geschud vraagt dr. Ahmad Najib Burhani (40) of ik aansluit bij zijn gezelschap om een hapje te eten. In het majestueuze Sari Pan Pacific hotel in Jakarta is een internationaal symposium gaande over religieuze zaken waar hij een aantal discussies leidt.
Voor het volledige artikel: zie het decembernummer van Volzin.
http://www.volzin.nu/magazine/eerdere-nummers/item/421066-volzin-2016-nummer-12
Wednesday, December 14, 2016
Sunday, October 30, 2016
Sunday, June 5, 2016
Saturday, May 14, 2016
KH Ali Mustafa Yaqub dan Pengaruh Arab
Utk guru saya, KH Ali Mustafa Yaqub (wafat, 28 April 2016). Mungkin tak
sesering murid lain dlm menimba ilmu darimu, tp aku belajar darimu ttg
dedikasi pd disiplin ilmu tertentu, menghargai kultur negeri sendiri
meski dididik di negara lain, & tdk minder thd
aristokrasi/habaib/kaya raya. Selamat jalan guruku. Smg husnul khotimah.
Amin ya robbal 'alamin.
Koran SINDO, Sabtu, 30 April 2016
KH Ali Mustafa Yaqub dan Pengaruh Arab
Ahmad Najib Burhani
Peneliti di LIPI dan Kyoto University, Jepang
KAMIS, 28 April 2016 pagi kita mendengar kabar mengejutkan tentang meninggalnya salah satu ulama moderat terkemuka dan pakar hadis ternama di Indonesia, KH Ali Mustafa Yaqub. Mengejutkan, karena dalam beberapa waktu belakangan ini beliau masih aktif dalam kegiatan deradikalisasi, melawan kelompok garis keras dan terorisme yang bahkan telah masuk ke berbagai masjid dan sekolah Islam.
KH Mustafa Yaqub melakukan itu dengan sepenuh jiwanya. Bahkan, berkali-kali berdebat langsung dengan mereka yang sering disebut sebagai preman berjubah. Pada Mei 2012 yang lalu, misalnya, seperti disiarkan secara langsung oleh TV ONE, KH Mustafa Yaqub membuat Habib Salim Selon, tokoh FPI (Front Pembela Islam), yang biasanya berteriak lantang menjadi tak berkutik.
Dia mengkritik keras tindakan FPI yang sering melangkahi hukum dengan main hakim sendiri terhadap tindak maksiat. Menurut KH Mustafa Yaqub, apa yang dilakukan FPI itu tak memiliki dasar keagamaan sama sekali.
Habib Salim dan FPI, yang merasa berhak melakukan sweeping terhadap kemungkaran dan meyakini bahwa penggunaan kekerasan sebagai cara menegakkan amr ma’ruf wa nahy ‘anil munkar memiliki sandaran keagamaan (di antaranya pada berbagai pernyataan Imam Al-Ghazali), lantas dibantah keras oleh KH Mustafa Yaqub.
KH Mustafa Yaqub yang waktu itu membawa kitab Ihya Ulumuddin karangan Al-Ghazali lantas meminta Habib Salim untuk membaca dan menerjemahkannya sambil menegaskan bahwa berdasarkan kitab itu, selama ada pemerintah yang sah, tidak boleh seseorang atau sekelompok orang main hakim sendiri. Sikap berani dan tidak minder, termasuk dengan habib-habib itu sering ditunjukkan oleh KH Mustafa Yaqub untuk menghadang mereka yang merasa paling memiliki Islam dan kemudian mengajarkan Islam dengan kekerasan.
Terakhir kali penulis bertemu dengan KH Mustafa Yaqub adalah pada seminar internasional tentang "Memperkokoh Islam Rahmatan Lil ‘Alamin untuk Perdamaian dan Kesejahteraan" di STAIN Pekalongan, November 2015. Pada saat itu KH Mustafa Yakub menegaskan sikapnya untuk melawan gerakan anti-Syiah yang berkembang di masyarakat.
Dia misalnya, menentang sikap ulama-ulama yang mengeluarkan fatwa bahwa Syiah itu sesat. Menurutnya, fatwa seperti itu tidak benar karena Syiah tidaklah tunggal. Fatwa seperti itulah yang justru menyesatkan. Beliau baru setuju kalau fatwa itu berbunyi, misalnya: "Barang siapa yang meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan atau memiliki posisi lebih tinggi daripada Nabi Muhammad, maka mereka telah tersesat."
Pandangan seperti di atas tentu merupakan perlawanan terhadap kelompok seperti ANNAS (aliansi nasional anti-Syiah). Kelompok yang dipimpin oleh Athian Ali M. Da’i itu sering melakukan gebyah uyah atau mengeneralisasi bahwa semua orang Syiah adalah sesat.
Kalau lah mereka sesat, bagi KH Mustafa Yaqub, kita tidaklah berhak melakukan kekerasan. Negaralah yang memiliki kedaulatan. Memang, sikap KH Mustafa Yaqub terhadap Syiah kadang terlihat seperti anti terhadap kelompok ini.
Namun sepemahaman penulis, apa yang dilakukannya adalah upaya untuk menjaga harmoni dalam masyarakat. Selain hal-hal yang berkaitan dengan teologi, KH Mustafa Yaqub termasuk ulama yang kritis terhadap mereka yang sering mendewakan ritual, seperti dalam melakukan ibadah haji.
Di Majalah Gatra (Januari 2006) misalnya, beliau menulis artikel berjudul "Haji Pengabdi Setan". Tulisan itu sangat menghenyakkan karena ditulis oleh ulama terkemuka dan ketika itu menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal. Bagaimana bisa seorang ulama menyebut mereka yang melakukan haji sebagai pengabdi setan? Biasanya ulama justru menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah ritual, termasuk haji.
Tapi, KH Mustafa Yaqub tidak setuju hal itu dan lebih memilih untuk menekankan pentingnya ibadah sosial. Intinya, beliau mengecam mereka yang berhaji berkali-kali, yang menurutnya tak lain hanya menuruti bujukan setan.
Ketika banyak persoalan kemiskinan begitu parah di masyarakat, maka haji berkali-kali itu tidak hanya tak etis secara sosial, tapi juga bahkan bisa berhukum haram. "Nabi SAW tidak menyatakan bahwa Allah dapat ditemui di sisi Ka'bah. Jadi, Allah berada di sisi orang lemah dan menderita." Ini adalah refleksi dari teologi pembebasan yang mengalir dalam darah KH Mustafa Yaqub.
Sebagai salah satu muridnya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pesantren Darus Sunnah Ciputat, penulis mulai berkenalan dengan KH Mustafa Yaqub tahun 1994. Selain beberapa sikapnya yang tertulis di atas, ada beberapa hal yang penulis catat tentang kiai berjenggot tipis, tak suka bergaya Arab, dan tak terlihat jidat hitamnya ini.
Pertama, berkaitan dengan pemilihan nama pesantrennya, Darus Sunnah. Mungkin banyak yang bertanya, mengapa tidak disebut Darul Hadits? Meskipun KH Mustafa Yaqub disebut sebagai pakar hadis, beliau tahu betul bahwa sunnah memiliki makna yang lebih luas daripada hadis.
Sunnah tidak hanya mengacu kepada sabda Nabi Muhammad yang tertulis, tetapi juga mengacu kepada sesuatu yang diteladani para Sahabat dan Tabi’in. Meskipun itu tak tertulis, sesuatu yang dijiwai dan menjadi model dalam perilaku.
Kedua, kehadiran KH Mustafa Yaqub membantah tuduhan yang mengeneralisasi bahwa alumni Arab Saudi akan memiliki pandangan radikal. Meski pendidikan S-1 dan S-2 beliau ditempuh di Arab Saudi, KH Mustafa Yaqub bukanlah orang yang terbuai dengan penampilan luar masyarakat Arab atau cara berpakaian Arab.
Ia lebih senang memakai kopiah dan baju sebagaimana umumnya orang Indonesia daripada memakai sorban atau kafiyeh atau jubah gaya Arab. Ini berbeda dari orang yang baru tahu Arab, tapi menjadikan tradisi luar Arab sebagai model kebanggaan.
Cara berpikirnya pun banyak yang tak sejalan dengan ideologi yang dipromosikan Pemerintah Saudi, Wahabisme. Meskipun Pesantren Darus Sunnah secara pendidikan berafiliasi dengan Timur Tengah, KH Mustafa Yaqub bisa mempertahankan independensi dalam berpikir.
Terakhir, berpolitik sepertinya menjadi kecenderungan dari banyak ulama belakangan ini. KH Mustafa Yaqub termasuk dari sedikit ulama yang tidak menyerahkan dirinya tergulung dalam kisaran politik. Dia konsisten dalam bidang akademik sebagai ahli hadits, mendidik anak-anak di pesantren, dan berdakwah.
Selamat jalan Pak Kiai, semoga akan lahir ahli-ahli hadits baru yang menjadi penerusmu dan yang benar-benar mengamalkan Sunnah, bukan sekadar tahu tentang hadits.
http://nasional.sindonews.com/read/1105188/18/kh-ali-mustafa-yaqub-dan-pengaruh-arab-1461956150
Koran SINDO, Sabtu, 30 April 2016
Ahmad Najib Burhani
Peneliti di LIPI dan Kyoto University, Jepang
KAMIS, 28 April 2016 pagi kita mendengar kabar mengejutkan tentang meninggalnya salah satu ulama moderat terkemuka dan pakar hadis ternama di Indonesia, KH Ali Mustafa Yaqub. Mengejutkan, karena dalam beberapa waktu belakangan ini beliau masih aktif dalam kegiatan deradikalisasi, melawan kelompok garis keras dan terorisme yang bahkan telah masuk ke berbagai masjid dan sekolah Islam.
KH Mustafa Yaqub melakukan itu dengan sepenuh jiwanya. Bahkan, berkali-kali berdebat langsung dengan mereka yang sering disebut sebagai preman berjubah. Pada Mei 2012 yang lalu, misalnya, seperti disiarkan secara langsung oleh TV ONE, KH Mustafa Yaqub membuat Habib Salim Selon, tokoh FPI (Front Pembela Islam), yang biasanya berteriak lantang menjadi tak berkutik.
Dia mengkritik keras tindakan FPI yang sering melangkahi hukum dengan main hakim sendiri terhadap tindak maksiat. Menurut KH Mustafa Yaqub, apa yang dilakukan FPI itu tak memiliki dasar keagamaan sama sekali.
Habib Salim dan FPI, yang merasa berhak melakukan sweeping terhadap kemungkaran dan meyakini bahwa penggunaan kekerasan sebagai cara menegakkan amr ma’ruf wa nahy ‘anil munkar memiliki sandaran keagamaan (di antaranya pada berbagai pernyataan Imam Al-Ghazali), lantas dibantah keras oleh KH Mustafa Yaqub.
KH Mustafa Yaqub yang waktu itu membawa kitab Ihya Ulumuddin karangan Al-Ghazali lantas meminta Habib Salim untuk membaca dan menerjemahkannya sambil menegaskan bahwa berdasarkan kitab itu, selama ada pemerintah yang sah, tidak boleh seseorang atau sekelompok orang main hakim sendiri. Sikap berani dan tidak minder, termasuk dengan habib-habib itu sering ditunjukkan oleh KH Mustafa Yaqub untuk menghadang mereka yang merasa paling memiliki Islam dan kemudian mengajarkan Islam dengan kekerasan.
Terakhir kali penulis bertemu dengan KH Mustafa Yaqub adalah pada seminar internasional tentang "Memperkokoh Islam Rahmatan Lil ‘Alamin untuk Perdamaian dan Kesejahteraan" di STAIN Pekalongan, November 2015. Pada saat itu KH Mustafa Yakub menegaskan sikapnya untuk melawan gerakan anti-Syiah yang berkembang di masyarakat.
Dia misalnya, menentang sikap ulama-ulama yang mengeluarkan fatwa bahwa Syiah itu sesat. Menurutnya, fatwa seperti itu tidak benar karena Syiah tidaklah tunggal. Fatwa seperti itulah yang justru menyesatkan. Beliau baru setuju kalau fatwa itu berbunyi, misalnya: "Barang siapa yang meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan atau memiliki posisi lebih tinggi daripada Nabi Muhammad, maka mereka telah tersesat."
Pandangan seperti di atas tentu merupakan perlawanan terhadap kelompok seperti ANNAS (aliansi nasional anti-Syiah). Kelompok yang dipimpin oleh Athian Ali M. Da’i itu sering melakukan gebyah uyah atau mengeneralisasi bahwa semua orang Syiah adalah sesat.
Kalau lah mereka sesat, bagi KH Mustafa Yaqub, kita tidaklah berhak melakukan kekerasan. Negaralah yang memiliki kedaulatan. Memang, sikap KH Mustafa Yaqub terhadap Syiah kadang terlihat seperti anti terhadap kelompok ini.
Namun sepemahaman penulis, apa yang dilakukannya adalah upaya untuk menjaga harmoni dalam masyarakat. Selain hal-hal yang berkaitan dengan teologi, KH Mustafa Yaqub termasuk ulama yang kritis terhadap mereka yang sering mendewakan ritual, seperti dalam melakukan ibadah haji.
Di Majalah Gatra (Januari 2006) misalnya, beliau menulis artikel berjudul "Haji Pengabdi Setan". Tulisan itu sangat menghenyakkan karena ditulis oleh ulama terkemuka dan ketika itu menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal. Bagaimana bisa seorang ulama menyebut mereka yang melakukan haji sebagai pengabdi setan? Biasanya ulama justru menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah ritual, termasuk haji.
Tapi, KH Mustafa Yaqub tidak setuju hal itu dan lebih memilih untuk menekankan pentingnya ibadah sosial. Intinya, beliau mengecam mereka yang berhaji berkali-kali, yang menurutnya tak lain hanya menuruti bujukan setan.
Ketika banyak persoalan kemiskinan begitu parah di masyarakat, maka haji berkali-kali itu tidak hanya tak etis secara sosial, tapi juga bahkan bisa berhukum haram. "Nabi SAW tidak menyatakan bahwa Allah dapat ditemui di sisi Ka'bah. Jadi, Allah berada di sisi orang lemah dan menderita." Ini adalah refleksi dari teologi pembebasan yang mengalir dalam darah KH Mustafa Yaqub.
Sebagai salah satu muridnya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pesantren Darus Sunnah Ciputat, penulis mulai berkenalan dengan KH Mustafa Yaqub tahun 1994. Selain beberapa sikapnya yang tertulis di atas, ada beberapa hal yang penulis catat tentang kiai berjenggot tipis, tak suka bergaya Arab, dan tak terlihat jidat hitamnya ini.
Pertama, berkaitan dengan pemilihan nama pesantrennya, Darus Sunnah. Mungkin banyak yang bertanya, mengapa tidak disebut Darul Hadits? Meskipun KH Mustafa Yaqub disebut sebagai pakar hadis, beliau tahu betul bahwa sunnah memiliki makna yang lebih luas daripada hadis.
Sunnah tidak hanya mengacu kepada sabda Nabi Muhammad yang tertulis, tetapi juga mengacu kepada sesuatu yang diteladani para Sahabat dan Tabi’in. Meskipun itu tak tertulis, sesuatu yang dijiwai dan menjadi model dalam perilaku.
Kedua, kehadiran KH Mustafa Yaqub membantah tuduhan yang mengeneralisasi bahwa alumni Arab Saudi akan memiliki pandangan radikal. Meski pendidikan S-1 dan S-2 beliau ditempuh di Arab Saudi, KH Mustafa Yaqub bukanlah orang yang terbuai dengan penampilan luar masyarakat Arab atau cara berpakaian Arab.
Ia lebih senang memakai kopiah dan baju sebagaimana umumnya orang Indonesia daripada memakai sorban atau kafiyeh atau jubah gaya Arab. Ini berbeda dari orang yang baru tahu Arab, tapi menjadikan tradisi luar Arab sebagai model kebanggaan.
Cara berpikirnya pun banyak yang tak sejalan dengan ideologi yang dipromosikan Pemerintah Saudi, Wahabisme. Meskipun Pesantren Darus Sunnah secara pendidikan berafiliasi dengan Timur Tengah, KH Mustafa Yaqub bisa mempertahankan independensi dalam berpikir.
Terakhir, berpolitik sepertinya menjadi kecenderungan dari banyak ulama belakangan ini. KH Mustafa Yaqub termasuk dari sedikit ulama yang tidak menyerahkan dirinya tergulung dalam kisaran politik. Dia konsisten dalam bidang akademik sebagai ahli hadits, mendidik anak-anak di pesantren, dan berdakwah.
Selamat jalan Pak Kiai, semoga akan lahir ahli-ahli hadits baru yang menjadi penerusmu dan yang benar-benar mengamalkan Sunnah, bukan sekadar tahu tentang hadits.
http://nasional.sindonews.com/read/1105188/18/kh-ali-mustafa-yaqub-dan-pengaruh-arab-1461956150
Friday, February 5, 2016
Tradisi Menulis di Jurnal Akademik
Koran Sindo, Edisi 02-01-2016
Tradisi Menulis di Jurnal Akademik
Ahmad Najib Burhani
Beberapa riset tentang tradisi ilmiah di Indonesia, seperti dilakukan Komang Wiryawan dalam artikelnya yang berjudul ” The current status of science journals in Indonesia ” (2014), menyebutkan bahwa jumlah publikasi ilmiah dalam bentuk jurnal yang diterbitkan oleh ilmuwan Indonesia kalah jauh dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Peringkat publikasi ilmiah ilmuwan Indonesia hanya sedikit lebih baik dibandingkan Filipina dan Vietnam. Dari tahun 1996 hingga 2013, menurut data dari SCImago, Singapura telah menerbitkan 171.037 dokumen, Malaysia memiliki 125.084 dokumen, Thailand 95.690 dokumen, sementara Indonesia hanya menerbitkan 25.481 artikel. Untuk jumlah jurnal Indonesia yang terindeks scopus, sebetulnya terdapat peningkatan yang cukup signifikan.
Jika tahun 2011 hanya terdapat 11 jurnal yang terindeks scopus, kini terdapat 20 jurnal yang telah masuk dalam indeks global itu. Ini tentu merupakan pertumbuhan signifikan bila dibandingkan dengan negara tetangga. Thailand, misalnya, tidak beranjak dari angka 26 dari tahun 2011 hingga 2015. Filipina mengalami pertambahan dari angka 13 menjadi 22.
Sementara Malaysia dari 46 jurnal menjadi 79 jurnal (Subekti, 2015). Terlepas dari perdebatan mengenai penggunaan scopus sebagai kriteria, tetap perlu dipertanyakan mengapa jumlah terbitan ilmiah kita masih kalah dibandingkan dengan negara tetangga? Pertanyaan itu sangat penting diperhatikan karena Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia.
Singapura yang memiliki kurang dari 5% dibandingkan penduduk Indonesia ternyata memiliki jumlah terbitan ilmiah jauh lebih tinggi. Demikian juga dengan Thailand dan Malaysia, penduduk negeri itu juga jauh lebih kecil dari Indonesia. Salah satu jawaban dari pertanyaan itu adalah karena akademisi kita belum memiliki tradisi atau budaya ilmiah yang kuat.
Kita belum terbiasa menulis di jurnal ilmiah, apalagi yang berbahasa Inggris. Hal mengejutkan adalah ada beberapa orang seperti Acep Iwan Saidi dalam tulisan di Kompas (17/ 11) yang justru membela tradisi tidak menulis ilmiah pagi dosen dan ilmuwan ilmu sosial dan humaniora.
Menurutnya, tidak mungkin seorang pengajar seni tradisional dan bahasa daerah bisa menerbitkan di jurnal internasional karena risetnya berkaitan dengan isu atau kasus lokal Indonesia sementara mereka yang mengevaluasi adalah orang asing. Logika ini sama sekali tidak benar.
Keunikan seni, budaya, dan bahasa di Indonesia itulah yang justru menarik jurnal internasional dan memiliki potensi besar untuk terbit. Justru hal yang lokal dan khas itu yang membuat akademisi asing tertarik untuk membaca dan menerbitkannya. Tapi tentu saja tulisan tentang peristiwa lokal itu harus dikaitkan dengan konteks global baik secara teori maupun kasus, bukan dilihat sebagai sesuatu peristiwa lokal yang mandiri.
Jawaban lainnya berkaitan dengan anggapan bahwa puncak karier seorang akademisi adalah keterkenalan di publik. Inilah yang menyebabkan beberapa ilmuwan lebih mementingkan tampil di televisi, menulis di koran, dan membuat status di media sosial daripada menulis di jurnal akademik yang pembacanya sangat terbatas. Mereka menganggap bahwa yang paling mempengaruhi kebijakan publik dan politik adalah televisi atau koran.
Sedihnya, anggapan itu sering kali benar. Sikap pemerintah dalam mengambil kebijakan sering kali didasarkan pada catatan pendek di koran daripada penelitian serius di jurnal. Anggapan bahwa menulis opini di koran dan majalah sebagai prestasi akademik dalam dunia tulis-menulis bisa menyesatkan, apalagi jika karya opini koran dinilai sebagai capaian tertinggi karya seorang ilmuwan.
Artikel di koran hanyalah opini dan tempat menyosialisasikan gagasan yang lebih utuh kepada masyarakat umum. Gagasan lengkap seorang akademisi terwujud dalam bentuk tulisan di jurnal ilmiah dan dalam bentuk buku akademik. Membuat satu artikel untuk jurnal ilmiah memang memerlukan waktu yang jauh lebih panjang dibandingkan dengan menulis opini di koran.
Jika menulis opini cukup dengan sekali duduk selama beberapa jam, menulis artikel akademik perlu waktu paling tidak satu bulan. Ini belum termasuk waktu yang diperlukan untuk pencarian data. Setelah selesai menulis, diperlukan waktu minimal enam bulan untuk bisa diterbitkan dalam jurnal akademik bergengsi.
Lama dan detailnya proses evaluasi sering membuat orang tidak sabar untuk mengirimkan tulisannya di jurnal bergengsi dan bahkan beberapa orang terjebak perangkap jurnal predator atau jurnal abal-abal . Tahun 2012 lalu ada tulisan dari Zulfan Tadjoeddin di internet yang sangat menarik, judulnya ” Jurnal Internasional Asal-asalan dan Nono Lee Affair”.
Tulisan ini ingin menunjukkan bahwa jurnal abalabal itu hanyalah mesin pencari uang dengan sasaran mangsa para akademisi yang terobsesi memiliki karya ilmiah internasional. Jurnal model ini tidak melakukan reviu, mengecek, dan mengedit tulisan sebagaimana umumnya jurnal ilmiah. Dengan identitas yang tak jelas, alamat palsu, dan plagiasi pun bisa terbit asal penulis mau membayar sejumlah uang.
Selain tulisan tentang Nono Lee, ada tulisan yang tak kalah menariknya dari Uli Kozok. Tulisan yang berjudul ”Predatory Publishing: A Case Study ” itu menunjukkan beberapa contoh dari akademisi Indonesia yang terjerat jurnal predator atau bahkan menjadi editor dari jurnal abal-abal. Tulisan itu juga menjelaskan trik-trik jurnal predator mencari mangsa dan menguraikan mengapa jumlah orang Indonesia yang terjerat sangat tinggi.
Karena obsesi menerbitkan di jurnal ilmiah internasional sangat tinggi dan ditambah lagi dengan tuntutan dari kampus dan Kemenristek-Dikti untuk menerbitkan di jurnal ilmiah internasila sebagai bagian persyaratan menjadi doktor atau profesor, maka banyak akademisi Indonesia yang termangsa jurnal abalabal . Jurnal-jurnal ini sering mengklaim bahwa mereka melakukan proses reviu dan terbitannya telah terindeks oleh scopus atau sistem indeks global lain.
Namun, ini semua hanya klaim semata. Tulisan sejelek apa pun bisa diterbitkan oleh jurnal ini asalkan mau membayar angka sekitar USD290. Pada akhirnya, bangsa ini memang harus meningkatkan tradisi menulis di jurnal akademik dan bersaing dengan negara lain dalam produktivitas karya ilmiah yang diakui dunia.
Namun demikian, jangan sampai obsesi tersebut membuat kita mengambil jalan pintas yang bisa dengan mudah menjerumuskan diri untuk termakan oleh predator dunia akademik.
AHMAD NAJIB BURHANI
Peneliti di Puslit Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=0&date=2016-01-02
http://lipi.go.id/berita/single/Tradisi-Menulis-di-Jurnal-Akademik/12393
Subscribe to:
Comments (Atom)






